HILANG DI PUNCAK ADAM
4 Desember 1974. LIMABELAS menit lagi DC-8 Martinair yang dikemudikan kapten penerbang Lamme berusia 58th akan mendarat di lapangan terbang Bandara Naike Colombo. Terbang malam di atas pebukitan Tajuh Perawan atau orang local menyebutnya Sapta Cania di jantung negeri Srilangka. Pesawat itu menerima clearence untuk turun dari ketinggian 8000 menjadi 2000 kaki. Di bawah pesawat itu menganga medan yang ganas dengan bukit dan jurang yang curam. Cuaca buruk membuat penerbangan terganggu dan menyeretnya ke dalam malapetaka. Dalam kegelapan menabrak bukit dan hancur ketinggian 4300 kaki. 9 awak pesawat dan  182 jemaah calon haji, 111 diantaranya dari kota/kab Blitar, Dipastikan tak satupun penumpang dan awak pesawat selamat. Kamis besoknya, reruntuhan pesawat itu baru ditemukan dan pada sorenya mulai ditemukan potongan-potongan tubuh manusia yang langsung dikuburkan secara Islam di negara yang mayoritas penganut Budha.



Upacara penguburan itu dipimpin oleh seorang tokoh agama Islam setempat dan dihadiri oleh 6 atau 7 organisasi Islam di Kolombo, serta Kepala Staf Angkatan Udara Srilangka. Medan di mana pesawat jatuh begitu sulitnya dicapai manusia, hingga sekarang hanya sebagian kecil puing2 pesawat yg ditemukan. Kotak hitam pencatat penerbangan yang lazim disebut black-box sampai saat ini tidak ditemukan. “Kecelakaan itu terjadi di perbukitan, 15 mil di utara Puncak Adam. Sedangkan puing-puing pesawat berserakan dalam daerah seluas ±2 mil persegi”.  Wijasurya seorang veteran angkatan udara Srilangka keesokan harinya mengatakan, bahwa puing-puing yang lain ditemukan pula kira-kira 8 mil dari daerah kecelakaan utama itu. 
Koran-koran Kolombo yang kemudian dikutip mentah-mentah oleh sebuah koran di Jakarta, mengatakan bahwa kecelakaan itu terjadi karena salah tangkap menara pengawas Bandaranaike. Pemberitahuan dari penerbang tentang jaraknya dari landasan forty miles, salah tangkap menjadi fourteen. Musibah kecelakaan ini baru akan terungkap dalam waktu yang agak lama, melihat black-box yang belum juga ditemukan sampai saat ini. Dan kalaupun sudah ditemukan, sebagaimana lazimnya, tidak pernah diumumkan. Jatuhnya pesawat DC-8 tidak mengganggu rencana perjalanan haji berikutnya dari Surabaya maupun dari Jakarta dan Medan.  
Dalam sejarah perhajian Indonesia 1974 merupakan proses peralihan mode angkutan laut beralih ke udara yang sempat menjadi kontroversi bagi masyarakan awam. Maka dipandang penting untuk memberikan sosialisasi. Para pejabat Departemen Agama segera mendatangi tempat-tempat karantina jemaah Haji. Kalimat bujukan yang datang dari Menteri Agama Mukti Ali dan disiarkan TVRI dan RRI berulang-ulang. “Tempat di mana orang menghembuskan nafas penghabisan adalah banyak dan bisa dimanapun, ada di udara, di laut, di daratan. Tapi sebagian besar orang menghembuskan nafasnya di tempat tidur. Karena itu kita tidak perlu takut dengan udara, sebagaimana kita tidak takut kepada tempat tidur”.  kalimat yang kedengaran seperti lelucon itu membangkitkan keberanian calon jamaah untuk berhaji dengan pesawat terbang. 
mencoba memulai
DAFTAR SYUHADA HAJI  yang gugur pada saat penerbangan menuju tanah suci.
POTO PEMAKAMAN
VIDEO KUNJUNGAN ke MASKELIYA SRILANKA 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerimaan Karyawan Baru 2018